Rabu, 16 April 2008

konflik internal

Sungguh kebesaran allah swt yang menjadikan seluruh alam ini dengan penuh manfaat untuk dikembang dan di ambil seluruh manfaatnya. Begitu pula keberadaan manusia yang diciptakan untuk menjadi khalifah di dunia ini sebagai pengganti allah dengan semua sifat yang dimiliki Nya. Allah swt dengan kemurahannya memberikan rezeki yang tiada disangka-sangka datangnya dan tanpa di ketahui oleh manusia. Tiga hal yang tidak diketahui manusia yaitu kematian, rezeki dan jodoh semua hanya allah yang mengetahui, mengatur dan merencanakan semua itu.

Kekhalifahan manusia di muka bumi tidak begitu sempurna dengan kehalifahan yang dimiliki allah, oleh karena itu allah dengan segenap maha kasih sayang yang dimilikinya memberikan cobaan, ujian yang membuat manusia akan sadar atau tidakkah dengan keberadaannya sebagai khalifah. Meski demikian semua cobaan yang diberikanNya tidak lepas dari kemampuan yang dimiliki hambanya, hingga manusia yang sadar akan itu adalah ujian yang datang dari allah maka dia akan menjadi bertambah kedekatannya kepada allah bahkan semakin bertambah keyakinannya bahwa semua yang diberikannya itu merupakan bentuk kasih sayang dari Nya, namun sebaliknya orang yang tidak sadar dengan itu semakin menjauh dan semakin tidak mengenal siapa yang telah menjadikannya di dunia ini.

Masa remaja memang masa yang kurangnya kesetabilan pengontrolan diri, baik itu dari emosi maupun pengambilan keputusan sehingga menyebabkan penyesalan yang mendalam yang akan di rasakannya kelak.

Saat itu aku di pesantren yang sejajar dengan kelas 2 SMA dengan semangat belajar yang begitu tumbuh dalam diriku membuat kehidupan atau sosialisasi di pesantren pun begitu enak dan menyenangkan. Dihari libur pun datang dengan senang dan hati ceria aku dan teman-teman menyambutnya seketika itu pun aku memberi kabar kepada orang tuaku bahwa aku liburan.

Sesampainya dirumah orang tuakupun menyambut dengan senyuman yang lebar dengan hati yang penuh diharapkan karena aku adalah anak pertama yang akan meneruskan semua cita-cita orang tuaku. Makan malampun tiba bertambahlah rasa riang yang ku rasa. Namun keesokan hari yang sangat ganjil pun aku rasa karena tak seperti biasanya ibuku menangis terisak-isak sambil menghapus linangan air mata yang jatuh bercucuran seraya aku bertanya ada apa ibu, namun ibuku tak mengucapkan sepatah katapun, yang ada hanya menambah tangisan. Disini pun aku merasa kebahagian terenggut tidak seperti hari-hari yang sebelumnya, semakin sesak keadaan rumah yang aku rasa dengan hari-hari tanpa ada orang yang aku sayang. Lama-kelamaan ibukupun memberitahukan kenapa sampai ia terisak menangis, itu disebabkan karena bapakku ingin mencari orang kedua selain ibuku ( memadu ibuku ).

Disini aku semakin muak dan marah dengan sifat yang dimiliki bapakku kenapa ia begitu tega melukai hati ibuku yang sudah menemani hidupnya kurang lebih selama 20 tahun. Sampai saat ini pun perasaan itu masih ada karena sifat yang tidak aku suka dan sangat aku tidak terima. Disinipun aku Cuma memiliki rasa hormat kepada ibuku seorang yang sudah berjuang keras sampai aku bisa kuliah hingga saat ini.

pengalaman pribadi

Hari yang ku tunggu telah datang yaitu hari pengumuman pelulusan ujian sekolah dasar,aku senang dan gembira dengan apa yang aku raih atas semua kerja keras dan kegigihan belajarku sehingga aku lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan. Disaat aku kelas 2 SD sampai dengan kelas 6 SD aku selalu mendapat rengking kelas. Padahal aku orang yang kurang pintar. Dan disaat aku kelas 4 SD aku terpilih manjadi perwakilan kelas untuk mengikuti perlombaan mata pelajaran matematika. Namun aku tidak berhasil dikarenakan persiapan yang kurang cukup. Meskipun demikian aku bangga dengan apa yang aku raih dan bisa manjadi perwakilan sekolah.

Setelah aku selesai sekolah dasar akupun melajutkan ke sekolah lanjutan tingkat pertama dengan dukungan orang tua. Aku termasuk orang yang paling takut dan patuh sama orang tua karena dengan orang tua aku bisa melanjutkan sekolah, aku sangat berterimakasih sekali dengan orang tua yang telah memberikan dukungan penuh baik dari materiil maupun moriil. Aku adalah anak yang pertama dari tiga bersaudara. Disaat pendidikan yang aku kenyam selama SLTP aku kurang menonjol bahkan aku tidak sama sakali menjadi bintang kelas namun aku selalu berada di kelas unggulan. Disaat kelas 3 SLTP aku agak mulai nakal karena hampir setiap minggu orang tuaku dipanggil ke sekolah dikarenakan kenakalan yang aku perbuat.

Disaat hari yang sangat aku tunggu yaitu hari pelulusan alhamdulillah aku tidak mengecewakan kedua orang tua aku, aku lulus dengan nilai yang baik dan aku termasuk 10 orang tertingi nilainya di sekolah aku meskipun aku termasuk orang yang nakal dan menyusahkan kedua orang tuaku. Keinginan untuk melanjutkan sekolah pun ingin aku capai dengan dukungan orang tua yang penuh, namun satu sisi orang tuaku ingin aku menjadi seorang yang ahli dalam permesinan dan ingin memasukkan aku di sekolah STM, namun disatu pihak dari keluargaku ingin aku masuh ke pesantren. Dengan hasil musyawarah diantara keluargaku akupun diputuskan masuk ke pesantren. Aku pun mengikuti apa yang diperintahkan kedua orang tuaku karena aku tidak mau membuat orang tuaku sedih dan kecewa.

Aku pun berangkat dari rumahku menuju pesantren yang sudah diputuskan yaitu sebuah pesantren yang letaknya di jawa timur. Aku pun diantar oleh kedua orang tuaku dan pamanku ke jawa timur aku pun kaget setelah setibanya di pesantren karena di pandangan aku sebuah pesantren identik dengan pengajian dengan kitab kuning dengan bangunan yang sederhana namun itu berbalik aku melihat pesantren yang aku menuntut ilmu disni dengan fasilitas yang sangat cukup dengan gedung yang bertingkat dan dengan santri yang ribuan, aku menjadi bingung karena aku pertama kali keluar dari daerahku dimana aku berasal dari bali. Setelah selesai mengurus semua administrasi keesokan harinya kedua orang tuaku memutuskan untuk balik kerumah aku merasa bingung karena aku di pesantren ini belum mempunyai teman satu pun karena aku orang yang sulit untuk beradaptasi sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk memperkenalkan diri. Sampai akhirnya aku mempunyai teman yang banyak.

Di pesantren ini aku belajar dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa arab dan bahasa inggris dengan mempergunakannya bercakap-capakap sesama santri yang ada di pesantren. Aku merasa kesulitan saat bercakap-cakap dengan bahasa arab karena aku adalah orang yang lulusan dari umum. Setelah lama kelamaan akupun bisa dikit demi sedikit berkomunikasi dengan bahasa arab. Di setiap hari yaitu malam senin, kamis dan miggu di pesantren ada kegiatan khusus untuk belajar dakwah yaitu latihan pidato. Disini pun aku merasa kurang bisa dan tidak merasa percaya diri karena aku orang yang sulit berbicara didepan orang banyak sehingga saat gilirankupun tiba aku gemetaran sampai-sampai keringat dinginpun bercucuran akibatnya aku terbata-bata saat latihan pidato. Setelah aku beranjak kekelas 5 kulliyatul muallimin al islamiyyah aku diangkat menjadi pengurus asrama disini banyak sekali pendidikan yang aku dapat, diantaranya aku harus bisa memberikan tauladan yang baik bagi adik kelasku dan bisa menjadi orang yang dituakan dan bisa diajak berdiskusi serta banyak hal yang lainnya.

Disaat pengumuman di kelas 5 ini semua siswa dengan jumlah ± 800 orang menuggu dengan rasa yang bimbang dan kalut karena kalau tidak lulus di kelas ini kebanyakan dari teman-temanku enggan untuk melanjutkannya karena rasa malu yang begitu besar. Alhamdululillah satu demi satu nama siswa dipanggil akhirnya namakupun dipanggil saat itu aku dapat panggilan yang ke 612, keringat dingin ini pun bercucuran aku tidak tau, aku bimbang, risau, galau dan cemas sekali karena aku takut kalau tidak naik kekelas 6, saat namaku dipanggil aku pun berlari dengan mengikuti arah yang telah di tentukan oleh ustadz-ustadz dengan diberinya sepucuk surat dan setibanya aku di sebuah ruang aku mendapati banyak teman-temanku yang lagi menunggu untuk membuka surat apakah lulus atau tidak. Akhirnya dengan suruhan dari pimpinan pesantren setalah di beri wejangan di perbolehkan membuka surat, aku dengan sangat hati-hati membuka rasa deg-degan yang begitu kecang aku buka perlahan-lahan akhirnya aku bisa dan lulus untuk melajutkan ke kelas 6.

Disaat kelas 6 aku merasa beban sangat begitu berat karena di kelas ini penentuan apakah aku bisa mendapatkan ijazah atau tidak. Kegiatan yang begitu full memaksa aku untuk menguras tenaga pikiran dan waktu untuk belajar dan menati peraturan yang telah ditentukan pesantren. Di kelas enam ini semua anak mendapat ujian untuk mengajar. Disini pun aku merasa gugup dan tidak percaya diri karena bahasa yang aku punya tidak begitu cukup namun aku tidak menyerah begitu saja aku berlatih dan berlatih agar nanti disaat hari menjelang giliranku mendapat giliran ujian mengajar aku sudah siap untuk mengajar. Dan giliranku pun tiba dengan rasa yang sedikit kurang percaya diri aku mengajar dengan kemampuanku yang aku bisa.

Setelah lulus dari kelas 6 aku memutuskan untuk mengabdikan diri selama 1 tahun di sebuah lebaga pendidikan yang tidak jauh dari dunia pesantren aku ditugaskan oleh pesantren untuk mengabdi di pesantren yang letaknya di sukabumi.


perkembangan psikologi remaja

Beberapa Permasalahan Remaja

Oleh Lilly H. Setiono

Team e-psikologi

Jakarta, 13 Agustus 2002

Bagi sebagian besar orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang sudah melewati usia dewasa, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Kenangan terhadap saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah dilupakan, sebaik atau seburuk apapun saat itu. Sementara banyak orangtua yang memiliki anak berusia remaja merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orangtua dan remaja itu sendiri. Banyak orangtua yang tetap menganggap anak remaja mereka masih perlu dilindungi dengan ketat sebab di mata orangtua para anak remaja mereka masih belum siap menghadapi tantangan dunia orang dewasa. Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal membawa mereka pada keinginan untuk mencari jatidiri yang mandiri dari pengaruh orangtua. Keduanya memiliki kesamaan yang jelas: remaja adalah waktu yang kritis sebelum menghadapi hidup sebagai orang dewasa.

Sebetulnya, apa yang terjadi sehingga remaja merupakan memiliki dunia tersendiri. Mengapa para remaja seringkali merasa tidak dimengerti dan tidak diterima oleh lingkungan sekitarnya?. Mengapa remaja seolah-olah memiliki masalah unik dan tidak mudah dipahami?

Masa Remaja

Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.

Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memhami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut.

Dimensi Biologis

Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.

Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH); dan 2). Luteinizing Hormone (LH). Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.

Dimensi Kognitif

Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.

Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Hal ini bisa saja diakibatkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan metode belajar-mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berpikir anak. penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya. Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.

Dimensi Moral

Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb. Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya “kenyataan” lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.

Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan “kenyataan” yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap "pemberontakan" remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya. Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut.

Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika “lingkungan baru” memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam. (Baca juga artikel: Perkembangan Moral)

Dimensi Psikologis

Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.

Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran. Remaja putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”. Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.

Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab. Rasa percaya diri dan rasa tanggung-jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati-diri positif pada remaja. Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai “seseorang yang baru”; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk dicobanya. Remaja akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para “idola”nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu. Pemilihan idola ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja. (Baca juga artikel: Remaja & Tokoh Idola)

Salah satu topik yang paling sering dipertanyakan oleh individu pada masa remaja adalah masalah "Siapakah Saya?" Pertanyaan itu sah dan normal adanya karena pada masa ini kesadaran diri (self-awareness) mereka sudah mulai berkembang dan mengalami banyak sekali perubahan. Remaja mulai merasakan bahwa “ia bisa berbeda” dengan orangtuanya dan memang ada remaja yang ingin mencoba berbeda. Inipun hal yang normal karena remaja dihadapkan pada banyak pilihan. Karenanya, tidaklah mengherankan bila remaja selalu berubah dan ingin selalu mencoba – baik dalam peran sosial maupun dalam perbuatan. Contoh: anak seorang insinyur bisa saja ingin menjadi seorang dokter karena tidak mau melanjutkan atau mengikuti jejak ayahnya. Ia akan mencari idola seorang dokter yang sukses dan berusaha menyerupainya dalam tingkahlaku. Bila ia merasakan peran itu tidak sesuai, remaja akan dengan cepat mengganti peran lain yang dirasakannya “akan lebih sesuai”. Begitu seterusnya sampai ia menemukan peran yang ia rasakan “sangat pas” dengan dirinya. Proses “mencoba peran” ini merupakan proses pembentukan jati-diri yang sehat dan juga sangat normal. Tujuannya sangat sederhana; ia ingin menemukan jati-diri atau identitasnya sendiri. Ia tidak mau hanya menurut begitu saja keingingan orangtuanya tanpa pemikiran yang lebih jauh.

Banyak orangtua khawatir jika “percobaan peran” ini menjadi berbahaya. Kekhawatiran itu memang memiliki dasar yang kuat. Dalam proses “percobaan peran” biasanya orangtua tidak dilibatkan, kebanyakan karena remaja takut jika orangtua mereka tidak menyetujui, tidak menyenangi, atau malah menjadi sangat kuatir. Sebaliknya, orangtua menjadi kehilangan pegangan karena mereka tiba-tiba tidak lagi memiliki kontrol terhadap anak remaja mereka. Pada saat inilah, kehilangan komunikasi antara remaja dan orangtuanya mulai terlihat. Orangtua dan remaja mulai berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda sehingga salah paham sangat mungkin terjadi.

Salah satu upaya lain para remaja untuk mengetahui diri mereka sendiri adalah melalui test-test psikologis, atau yang di kenal sebagai tes minat dan bakat. Test ini menyangkut tes kepribadian, tes intelegensi, dan tes minat. Psikolog umumnya dilatih untuk menggunakan alat tes itu. Alat tes yang saat ini umum diberikan oleh psikolog di Indonesia adalah WISC, TAT, MMPI, Stanford-Binet, MBTI, dan lain-lain. Alat-alat tes juga beredar luas dan dapat ditemukan di toko buku atau melalui internet; misalnya tes kepribadian.

Walau terlihat sederhana, dampak dari hasil test tersebut akan sangat luas. Alat test psikologi dapat diibaratkan sebuah pisau lipat yang terlihat sekilas tidak berbahaya; namun di tangan orang yang “bukan ahlinya” atau yang kurang bertanggung-jawab, alat ini akan menjadi sangat berbahaya. Alat test jika diinterpretasikan secara salah atau tidak secara menyeluruh oleh orang yang tidak berpengalaman atau tidak memiliki dasar ilmu yang cukup untuk mengartikan secara obyektif akan membuat kebingungan dan malah membawa efek negatif. Akibatnya, para remaja akan merasa lebih bingung dan lebih tidak merasa yakin akan hasil tes tersebut. Oleh karena itu sangatlah dianjurkan untuk mencari psikolog yang memang sudah terbiasa memberikan test psikologi dan memiliki Surat Rekomendasi Ijin Praktek (SRIP), sehingga dapat menjamin obyektivitas test tersebut.

Satu hal yang perlu diingat adalah hasil test psikologi untuk remaja sebaiknya tidak ditelah mentah-mentah atau dijadikan patokan yang baku mengingta bahwa masa remaja meruipakan masa yang snagat erat dengan perubahan. Alat test ini tidak semestinya dijadikan buku primbon atau acuan kaku dalam penentuan langkah untuk masa depan, misalnya dalam mencari sekolah atau mencari karir yang cocok. Seringkali, seiring dengan perkembangan remaja dan perubahan lingkungan sekitarnya, konklusi yang diterima dari hasil test bisa berubah dan menjadi tidak relevan lagi. Hal ini wajar mengingat bahwa minat seorang remaja sangat labil dan mudah berubah.

Sehubungan dengan explorasi diri melalui internet atau media massa yang lain, remaja hendaknya berhati-hati dalam menginterpretasikan hasil-hasil yang di dapat dari test-test psikologi online melalui internet. Harap diingat bahwa banyak diantara test tersebut masih sebatas ujicoba dan belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu dibutuhkan kejujuran untuk mampu menerima diri apa adanya sehingga remaja tidak mengembangkan identitas "virtual" yang berbeda dengan diri yang asli. (baca juga artikel: Explorasi Diri Melalui Internet)

Selain beberapa dimensi yang telah disebutkan diatas, masih ada dimensi-dimensi yang lain dalam kehidupan remaja yang belum sempat dibahas dalam artikel ini. Salah satu dari dimensi tersebut diantaranya adalah dimensi sosial.

Tip untuk Orangtua

Dalam kebudayaan timur, masih banyak orangtua yang menganggap anak adalah milik orangtua, padahal seperti yang dituliskan oleh Khalil Gibran: Anak Hanya Titipan Sang Pencipta. Ia bukan kepanjangan tangan orangtua. Ia berhak memiliki kehidupannya sendiri, menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Tentu saja peran orangtua sangat besar sebagai pembimbing. Dalam usia remaja, kemampuan penentuan diri inilah yang semestinya dilatih. Remaja seperti juga semua manusia lainnya – belajar dari kesalahan. Bagi para orangtua ada baiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

· Mulailah menganggap anak remaja sebagai teman dan akuilah ia sebagai orang yang akan berangkat dewasa. Seringkali orangtua tetap memperlakukan anak remaja mereka seperti anak kecil, meskipun mereka sudah berusaha menunjukkan bahwa keberadaan mereka sebagai calon orang dewasa.

· Hargai perbedaan pendapat dan ajaklah berdiskusi secara terbuka. Nasihat yang berbentuk teguran atau yang berkesan menggurui akan tidak seefektif forum diskusi terbuka. Tidak ada yang lebih dihargai oleh para remaja selain sosok orangtua bijak yang bisa dijadikan teman.

· Tetaplah tegas pada nilai yang anda anut walaupun anak remaja anda mungkin memiliki pendapat dan nilai yang berbeda. Biarkan nilai anda menjadi jangkar yang kokoh di mana anak remaja anda bisa berpegang kembali setelah mereka lelah membedakan dan mempertanyakan alternatif nilai yang lain. Larangan yang kaku mungkin malah akan menyebabkan sikap pemberontakan dalam diri anak anda.

· Jangan malu atau takut berbagi masa remaja anda sendiri. Biarkan mereka mendengar dan belajar apa yang mendasari perkembangan diri anda dari pengalaman anda. Pada dasarnya, tidak ada anak remaja yang ingin kehilangan orangtuanya.

· Mengertilah bahwa masa remaja untuk anak anda adalah masa yang sulit. Perubahan mood sering terjadi dalam durasi waktu yang pendek, jadi anda tidak perlu panik jika anak remaja anda yang biasanya riang tiba-tiba bisa murung dan menangis lalu tak lama kemudian kembali riang tanpa sebab yang jelas.

· Jangan terkejut jika anak anda bereksperimen dengan banyak hal, misalnya mencat rambutnya menjadi biru atau ungu, memakai pakaian serba sobek, atau tiba-tiba ber bungee-jumping ria. Selama hal-hal itu tidak membahayakan, mereka layak mencoba masuk ke dalam dunia yang berbeda dengan dunia mereka saat ini. Berikanlah ruang pada mereka untuk mencoba berbagai peran yang cocok bagi masa depan mereka. Ada remaja yang menurut tanpa membantah keinginan orangtua mereka dalam menentukan peran mereka, misalnya jika kakek sudah dokter, ayah dokter, kelak iapun “diharapkan dan disiapkan” untuk menjadi dokter pula. Namun ada juga anak remaja yang memang tidak ingin masuk ke dalam dunia yang sama dengan orangtua mereka. Dalam hal ini janganlah memaksakan anak mengikuti kehendak orangtua. Seperti Kahlil Gibran ….anak hanya titipan, ia milik masa depan dan kita milik masa lalu.

· Kenali teman-teman anak remaja anda. Bertemanlah dengan mereka jika itu memungkinkan. Namun waspadalah jika anak anda sangat tertutup dengan dunia remajanya. Mungkin ia tidak/ kurang mempercayai anda atau ada yang disembunyikannya.

http://www.e-psikologi.com/remaja/130802.htm